Home News Silaturahmi ke Malang, MUI Jakarta Serap Semangat Kemandirian Ponpes Biharu Bahri
News

Silaturahmi ke Malang, MUI Jakarta Serap Semangat Kemandirian Ponpes Biharu Bahri

Share
Silaturahmi ke Malang, MUI Jakarta Serap Semangat Kemandirian Ponpes Biharu Bahri
Share

MALANG — Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Biharu Bahri Asali Fadlaailur Rahmah atau dikenal masyarakat sekitar Masjid Tiban yang berlokasi di Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, Jumat (10/4/2026). Kunjungan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus bertukar pengalaman dalam pengelolaan lembaga keagamaan.

Silaturahmi ke Malang, MUI Jakarta Serap Semangat Kemandirian Ponpes Biharu Bahri

Bendahara MUI DKI Jakarta, KH Abi Ichwanuddin, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran perjalanan rombongan dari Jakarta hingga tiba di lokasi pesantren. Ia mengungkapkan bahwa keinginan untuk bersilaturahmi telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu.

“Kami ingin memiliki saudara baru. Kami juga membuka pintu, apabila Romo Kiai berkenan ke Jakarta, jangan sungkan untuk menghubungi kami,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Ia menambahkan, kunjungan tersebut juga bertujuan untuk belajar langsung dari pesantren mengenai pengelolaan yayasan yang mandiri serta semangat keikhlasan dalam berdakwah. Menurutnya, meskipun Jakarta merupakan kota besar, nilai-nilai keikhlasan tetap menjadi fondasi utama dalam perjuangan dakwah para ulama.

“Kami ingin membawa pulang pelajaran dari sini untuk ditularkan di Jakarta, sebagai bagian dari upaya melanjutkan perjuangan para pendahulu (di MUI),” katanya.

Sementara itu, Pengurus Pondok Pesantren Biharu Bahri, Ahmad Syukron, menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaan atas kunjungan rombongan MUI DKI Jakarta.

“Ini adalah kehormatan besar bagi kami keluarga pondok atas kehadiran bapak-bapak dari MUI DKI Jakarta. Silaturahmi ini menjadi energi baru bagi kami,” ujar Syukron.

Ia menjelaskan bahwa pesantren Biharu Bahri tersebut memiliki sejarah panjang sejak dirintis pada 1963 dan resmi berdiri pada 1978 oleh pendirinya, Romo KH Ahmad Bahru Afdhaluddin Sholeh Al Mahbub Rahmat Alam, yang wafat pada 2010.

Menurutnya, pembangunan pesantren dilakukan secara bertahap tanpa perencanaan induk yang baku, melainkan berdasarkan arahan langsung dari Romo Kiai dan Ibu Nyai. Meski demikian, seluruh proses tetap berjalan hingga memperoleh perizinan yang lengkap.

“Pondok ini dibangun bukan dengan master plan di atas kertas, tetapi dengan petunjuk dan keistiqamahan para masyayikh. Alhamdulillah, semua berjalan dan mendapatkan izin,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pesantren saat ini tengah bersiap mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan terus berkembang dengan jumlah santri yang mencapai lebih dari 300 orang, terdiri dari sekitar 87 kepala keluarga yang seluruhnya bermukim di lingkungan pondok.

Dalam pengelolaannya, pesantren memegang teguh tiga prinsip utama yang diajarkan oleh pendiri, yakni tidak meminta-minta, tidak berutang, dan tidak bersikap tamak.

“Kami diajarkan untuk tidak bergantung kepada siapapun, tidak berutang, dan tidak tamak. Prinsip ini yang kami jaga hingga hari ini,” tegasnya.

Prinsip tersebut diterapkan secara konsisten, termasuk dalam proses pembebasan lahan yang dilakukan sedikit demi sedikit hingga kini memiliki lebih dari 50 sertifikat tanah.

“Semua tanah ini dibebaskan perlahan-lahan. Tidak sekaligus, tapi istiqamah. Dari situlah keberkahan kami rasakan,” ungkap Syukron.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dakwah yang dilakukan pendiri pesantren tidak hanya berdampak di tingkat lokal, tetapi juga menarik perhatian masyarakat dari luar daerah hingga mancanegara, bahkan di antaranya ada yang memeluk Islam.

“Banyak tamu dari luar datang ke sini, bahkan dari luar negeri, dan sebagian mendapatkan hidayah untuk masuk Islam. Ini bagian dari dakwah beliau,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Syukron memohon doa agar para pengurus dapat melanjutkan perjuangan pendiri pesantren serta menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan, termasuk pesan agar pondok tetap independen dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik.

“Pesan Romo Kiai sangat jelas, pondok ini jangan sampai terpengaruh politik. Kami berkomitmen menjaga amanah itu,” tandasnya.

Penulis: Herly Ramadhani

Share